Monday, February 27, 2012

musim bunga
mulai terjun luruh
bercanda
tentang gadis liar
janda -janda nakal
kau dan aku
merangkap sepi

mayat -mayat
menimbus belantara
titis sepertinya hujan
rupanya darah
kau dan aku
terus merangkak sepi
di lembah petualang
hanyir membusuk

Thursday, February 23, 2012

bisikan gurindam
menyerbu mata sepi
kau berpuisi
di jalanan yang membising
tentang kemanusiaan
tentang harga diri
tewas mereput
dalam harta waja

kau seorang penyair
dari daerah menangis
melelong mimpi
meruntuh kaki langit
di kutuki darah
selera dunia
memperjudi kemerdekaan

Monday, January 9, 2012

merenung renungan
memecah kaca
sangkar tak berpelita
menerangi jalan
tak berpenghuni
walau sejalur
kata mesra

boestamam
merdeka dengan darah
di puncak menjulang piala
dasar terkubur
berceloteh sejarah
memenangkan bicara

Friday, December 2, 2011

jodoh pertemuan
dalam dimensi revolusi
aku panggil kekasih
dalam demontrasi

kekasih , sebagai hadiah perkasihan

aku turutkan kata rosly dhoby
"saya tak gentar saya tak takut mati"
meraung tangsian zaaba
dalam temasya mandi sungai kling.

puisi meronta mengasak peluru

binatang tunggangan chairil
menggelupur beribu tahun
setiap bait tulisan batu

aku tinggalkan nota tsar

sebagai ulang tahun kebangkitan
supaya maharaja puyi tidak gementar
152 kantung watikah
wuchang punya belati tajam


intektual inggeris dalam kenang

bahasa selerak berguguran
gelora mencengkam
revolusi makin rapat
pulang pasti bocor darah

Thursday, September 29, 2011

kuasa runcing
merampas raksa murni
termengah warga desa
berkurun melimpahi kesopanan
tiba di rungkai kebijaksanaan
muka jernih indah tenang
lubuk sempit berkocak gelora.

searus gelombang batin
sesak ! menghuni mimpi mati
aneh, giri bisik darah
dan para pendukung
melempar keringat
ke hujung malam
mencari negeri tenggelam
pada satu sandaran silam

puisi watan

Saturday, September 17, 2011

sebutir masa
pecah menggeletar
tika kecundang
hancur kenang
wira senang
bertendang tanpa sayang

isteri mati mimpi
datang sepi bertubi
burung berkicau pagi
terus mencakar ratib bisu



- puisi watan -

Wednesday, September 7, 2011

seingat aku, kita menyimpul gagah
ingin mengenal antara dara dan janda

perempuan kita di pukau arah
lumur  muka kita bersama darah

puisi watan
 

Copyright 2010 Solider Sastera.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.